Isle of Skye, Scotland At a Glance

Scotland is a country located in the north of England and is a part of the United Kingdom. Last year, Scotland has been awarded by the readers of Rough Guide (2017) as the most beautiful country in the world which I couldn’t agree more to that. From the breathtaking view of cliffs to the sight of green meadow, there is no better place to take a breath and relax yourself in this small island, Isle of Skye.

DSC_1858
Neist Point Lighthouse

To get to Isle of Skye, you can drive a car or use a public transportation. However, to get to the remote parts of the island, it would be more comfortable to use a car for the visitors. Many travelers also drive their camper vans to enjoy this beautiful island. From the Scottish mainland, Isle of Skye is connected to a bridge which is called as a Skye Bridge.

The perfect duration for visiting this island is around 3-4 days. We can start the journey from the south part of the island, heading to the west, then up to the north and finally down back to the south. Some places we can visit is Fairy Pool, Fairy Glen, Quiraing, Kilt Rock, Portree, Old Man of Storr, and the most spectacular one is Neist Point that is located in the most western part of the island. Once you arrived in Neist Point, you will be in awe of the view of high cliffs meeting the expanse of sea.

DSC03323
Old Man of Storr

What we have to remember is as the internet connection is limited, you have to prepare an offline map to guide your trip there. Do not forget to bring along some books, food, and your best travel mates! Worry less about how you survive and enjoy the trip without the internet for this place offers an incredible natural beauty that everyone wish to see themselves! Your weekend won’t be dull anymore.

Advertisements

Cerita dari Isle of Skye, Skotlandia (Part 3)

Bagian ini merupakan bagian akhir dari kisah perjalanan saya dan Renzy dan 3 teman saya lainnya road trip dari Glasgow ke Isle of Skye. Perjalanan 3 hari 2 malam di Skye yang menenangkan dan menyenangkan!

Kilt Rock viewpoint

Dari Quiraing yang gagal karena parkiran padat dengan mobil turis, perjalanan dilanjutkan menuju Kilt Rock viewpoint. Sejujurnya saya bingung sih bagaimana mendeskripsikan Kilt Rock ini haha. Jadi intinya sih disini kita bisa lihat air terjun dimana airnya jatuh langsung di lautan gitu. Kalau di situs ini, dijelaskan seperti ini:

Not only did this roughly 55m waterfall prominently plunge from the sea cliffs right into the Sound of Raasay (itself part of a larger body of water connected to the Atlantic Ocean called The Minch), but it was also backed by the eccentric 90m Kilt Rock formation, which apparently beared a striking resemblance to a Scottish kilt.”

Jadi, pemandangannya bagus! Tapi maaf banget kurang paham tentang struktur geologinya hehe. Worth a visit!

DSC_1941
Kilt Rock

Portree

Karena hari sudah hampir sore dan perut mulai keroncongan pertanda saatnya makan siang, maka kami menuju kota besar di Isle of Skye yaitu Portree. Perjalanan menuju Portree ditempuh kurang lebih 30 menit dari Kilt Rock ke arah selatan.

DSC_1703

Mobil terparkir di dekat The Chippy, kedai makanan yang menjual fish and chips. Kami membeli makanan dan segera melahapnya karena sudah sangat lapar. Harga makanan disitu relatif murah. Untuk satu porsi fish and chips GBP6 kalau tidak salah ingat. Saus  dan mayonaise dijual terpisah dengan harga GBP0.20 per sachet. Di dekat The Chippy tersebut merupakan pusat kota dimana kita dapat menemukan supermarket, toko suvenir, dan toilet umum. Tinggal jalan sedikit saja. Di setiap tempat yang kami kunjungi, saya selalu menyempatkan diri untuk membeli postcards dan magnet kulkas untuk kenang-kenangan.

Seandainya kami booking hotel jauh-jauh hari, mungkin kami masih bisa dapat kamar yang available di Portree. Disini nyaman sekali karena Portree adalah kota besar di Isle of Skye, segala macam yang dibutuhkan ada. Sinyal internet pun lancar banget disini! Tapi balik lagi ya ke preferensi masing-masing orang. Kalau pengen konek terus dengan sinyal hp, pastikan kita menginap di kota besar. Kalau di kota-kota lain belum tentu ada sinyal karena lokasinya yang terpencil dan menyatu dengan alam. Tapi kabar baiknya, ketika nggak ada sinyal, kita bisa menikmati makna liburan itu sendiri sepenuhnya. Bebas dari segala godaan media sosial, bisa melihat bintang-bintang dan taburan benda angkasa lain di langit yang sangat bersih, dan bisa juga punya waktu banyak untuk mengobrol dengan teman-teman lainnya.

Old Man of Storr

Setelah mengisi dan berbelanja perbekalan, kami lanjut menuju Old Man of Storr. Suasana di sekitar puncak bukit batu yang berkabut mengingatkan kita tempat syuting film Game of Thrones. Lokasi ini sangat populer sehingga banyaaakk sekali mobil turis terparkir disini. Untuk menuju puncak bukit, kita harus trekking sedikit. Tapi pada saat itu saya sendiri mager soalnya udah capek banget haha jadilah yang trekking ke atas para lelaki itu.

DSC03323
Old Man of Storr

Dari Old Man of Storr, kami berkendara menuju penginapan selanjutnya karena sudah mulai gelap. Nah yang unforgettable disini adalah kami salah memesan penginapan! Sebenarnya nggak salah sih cuma nggak tepat aja. Jadi, aslinya penginepan kami tuh di Loch Ossian, suatu penginepan tersisa saat itu yang terpencil dekat danau. Akses menuju penginapan itu saja tidak bisa menggunakan mobil. Paling mudah adalah menggunakan kereta yang nantinya berhenti di Corrour nanti dari stasiun kereta tersebut, kami harus berjalan menuju hostel. Daaan hal ini jelas nggak mungkin! Salahnya, kami baru menyadari hal ini setelah booking! Aaah, langsung deh itu kami telfon sana sini minta bantuan untuk cancel hostel yang di Loch Ossian dan minta tolong untuk dicarikan opsi hotel lain. Panik karena hari sudah hampir gelap dan kami belum dapat penginapan, ditambah lagi sinyal untuk telfon aja mati-matian! hahaha duh nggak akan lupa deh ini.

Fort William

Alhamdulillah, setelah minta bantuan dari SYHA untuk cari hostel lain yang available malam itu dan dekat dengan Fort William, akhirnya dapet juga di hostel dekat Ben Nevis. Dari Fort William sudah dekat sekali. Fiuuh, legaaa hehehe. Jadi pembelajaran sih ini untuk kita semua baca baik-baik email dan instruksi yang sudah diberikan oleh hostel. BACA BAIK_BAIK! Kebiasaan sih ya kadang suka baca sekilas tanpa memahami betul isinya.

Hostel di Ben Nevis ramai malem itu. Ramaaai sekali pengunjung. Kamar full semuanya, benar-benar full! Alhamdulillah, saya dan Renzy dapet kamar yang female only. Sedangkan para lelaki dapet kamar yang private jadi kami harus tambah bayar sedikit lebih mahal. But, it’s okay for us.

Malem itu di hostel kami habiskan untuk makan, ngobrol, kemudian istirahat.

Keesokan harinya, ketika sarapan pagi dan siap-siap check out, saya baru menyadari bahwa rata-rata orang yang menginap disini adalah mereka yang akan trekking di Ben Nevis pagi harinya. Kebanyakan orang sudah siap dengan pakaian dan kelengkapan trekking mereka. Namun, kami berlima harus check out karena melanjutkan perjalanan kembali ke Glasgow hari itu.

Glenfinnan Viaduct 

Di perjalanan menuju Glasgow, kami mampir dulu ke lokasi syuting film Harry Potter yang sangaaatt terkenal yaitu di Glenfinnan Viaduct! Beruntungnya ketika kami tiba disana pas banget dengan jadwal kereta lewat. Cuma sayangnya, kereta lewat ketika kami masih jauh dari jembatan itu sehingga kami tidak bisa mengambil gambarnya dari dekat huhu. Lain kali harus cek baik-baik nih jadwal kereta lewatnya!

DSC_2009
Glenfinnan Viaduct
DSC_1977
“Choo..choo..!” The popular Harry Potter train. It is actually an old train that is still operated for tourists who want to experience to be a Hogwarts students.

Siapa tau kalian ada yang tertarik buat naik kereta ini, make sure you have booked the ticket few months before. Soalnya suka penuh! Bisa cek disini untuk info lebih lanjut.

Glencoe

Daaan akhirnya perjalanan ini pun ditutup dengan mengunjungi Glencoe, biasanya orang-orang kesini untuk piknik di dekat danau ataupun trekking. Dengan berbekal sandwich dan makanan lain yang sudah kami siapkan, kami pun piknik di tepi danau yang tenang itu. Air danau memantulkan bayangan pepohonan dan gunung. Hari itu awan mendung sedikit memayungi kami. Udara sejuk, pas untuk pakai sweater sambil menikmati sandwich dan mengobrol di tepi danau. Aaahh sungguh indah…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Glencoe Lochan

Akhirnya, terima kasih buat temen-temen seperjalanan ini yaitu Renzy, Razin, Akbar, dan Miftah! This road trip wouldn’t be this fun and exciting without you guys! Seluruh foto yang saya upload di blog tentang Isle of Skye Part 1, Part 2, dan bagian ini adalah hasil jepretan keempat orang tersebut, so thank you!!

DSC_1843
Skye Squad!

 

 

 

 

 

Islamic Heritage Tour in Spain (Day 2 – Cordoba)

Hari ke-2

Pagi hari setelah sarapan, perjalanan dilanjutkan dari Seville menuju Cordoba dengan waktu tempuh sekitar 2 jam melalui jalan tol. Jalanan disini lengang, lancar karena volume kendaraan yang tidak begitu padat. Pemandangan sepanjang perjalanan pun masih sama seperti hari sebelumnya, masih didominasi oleh tanah tandus kering berpasir. Meskipun matahari sangat terik, udara yang berhembus cukup sejuk. Namun justru kondisi seperti inilah yang bikin saya seringkali nggak sadar kelamaan berjemur di bawah matahari keterusan jadi gosong hehe.

Medina Az-Zahra

Sebelum menginjakkan kaki di Cordoba, kami terlebih dahulu mampir ke Madinat Az-Zahra. Sebuah kota yang terletak dekat Cordoba ini dibangun oleh Khalifah Abdurrahman III pada tahun 936 M. The city was built from scratch which was also an attempt to show the greatness of the power of Chaliph Abdurrahman III. Ya betul, kota ini dibangun dari nol! Mulai dari perencanaan saluran air, desain kota, jalanan, semua dibangun dari awal dan sangat diperhatikan detailnya.

Sebelum menuju lokasi reruntuhan kota Medinat Az-Zahra, terlebih dahulu kami diajak ke Museum Medinat Az-Zahra. Disini kami disuguhi animasi film mengenai sejarah awal terbentuknya Kota Medinat Az-Zahra hingga berakhirnya kota ini. Setelah menonton film, kami menuju tempat pemberhentian bis yang merupakan fasilitas dari museum. Bis inilah yang akan membawa kami ke situs reruntuhan kota Medinat Az-Zahra. Dari museum, hanya 5 menit saja waktu yang ditempuh menggunakan bis ini. Harap perhatikan jam kedatangan dan keberangkatan bus ini ya!

DSC04687
Sisa reruntuhan Kota Medinat Az-Zahra

Di situs ini, pengunjung bisa berjalan melalui sudut-sudut “kota” dengan jalanan relatif menurun dilengkapi anak tangga. Tapi karena hari itu sangat terik dan waktu yang diberikan hanya 30 menit, saya dan keluarga memutuskan untuk menikmati pemandangan “kota” ini dari atas saja (setelah pintu masuk). Jalan kami terhitung lambat, daripada ditinggal lebih baik nggak ke bawah deh hehe.

Menurut sejarah, kota ini mengalami kejayaan hanya 3 abad lamanya. Pada masa kejayaannya, Medinat Az-Zahra merupakan kota yang paling maju dan powerful. Medinat Az-Zahra mulai runtuh ketika pertikaian dan perebutan kekuasaan antar umat Muslim terus menerus terjadi hingga pada akhirnya Islam benar-benar hilang dan terhapus dari Cordoba pada 1031 M. Dari runtuhnya Kota Medinat Az-Zahra yang begitu gemilang pada masanya, kita dapat belajar bahwa suatu negara akan mudah dipecah belah oleh pihak luar ketika banyak konflik internal didalamnya. When I heard and read the story about Medinat Az-Zahra, I was completely saddened… Dan kini, yang tersisa dari kota ini adalah situs arkeologinya.

Mezquita-Catedral de Córdoba

Selepas dari Medinat Az-Zahra, kami menuju Cordoba yang berjarak hanya 30 menit saja. Menurut sejarah, Cordoba merupakan ibukota Andalusia pada tahun 766 M. Pada sekitar abad 10 M, Cordoba merupakan salah satu kota yang paling maju baik dalam hal peradaban, politik maupun ekonomi bahkan disebut mampu menyaingi Konstantinopel. Salah satu bukti kemajuan Cordoba pada masa itu adalah adanya Universitas Cordoba dimana berbagai orang dari belahan bumi Barat maupun Timur akan berlomba datang kesini untuk mencari ilmu di berbagai bidang dengan para pengajar yang paling kompeten di bidangnya.

DSC04693
Jembatan Cordoba.  Anyway, jembatan Cordoba ini mengingatkan saya lokasi syuting Game of Thrones hehe
DSC04700
Mama dan Papa di atas Jembatan Cordoba, dalam perjalanan menuju Mezquita-Catedral de Córdoba.

Sesampainya di Cordoba, kami langsung mengunjungi Mezquita-Catedral de Córdoba. Bangunan ini dulunya merupakan bangunan masjid yang dibangun pada masa Abdurrahman I pada abad ke-8 M. Lalu saat Cordoba ditaklukan, masjid ini pun diubah menjadi bangunan katedral. Namun kini kita dapat melihat bangunan masjid dan katedral tersebut dalam satu tubuh bangunan yang dinamakan Mezquita-Catedral de Córdoba. 

Lantai pada bangunan ini seluruhnya berlapis marmer. Tiang-tiang pun berbahan marmer yang membuat bangunan ini makin mewah dan megah. Di satu sisi bangunan, kita dapat melihat tiang-tiang masjid yang mengingatkan kita akan tiang-tiang di Masjid Nabawi. Masih dapat ditemui juga mihrab dengan ukiran kaligrafi arab berlafadz Allah. Begitu kental terasa kehadiran bangunan masjid sehingga membuat pengunjung seringkali terbawa emosi dan suasana. Tour guide kami menceritakan bahwa seringkali ditemukan pengunjung yang sholat di dalam bangunan ini. Padahal jelas tertulis dan jelas diperingatkan sebelum kita memasuki bangunan Mezquita-Catedral de Córdoba (di area pemeriksaan) bahwa kegiatan ibadah dilarang dilakukan. Maka sebagai turis, marilah kita menghormati, menghargai, dan mematuhi perintah tersebut. Meskipun saya sendiri pun paham rasa sedih itu pasti menghampiri turis Muslim ketika berkunjung ke Mezquita-Catedral de Córdoba.

DSC04728
Tiang-tiang marmer di bagian bangunan Mezquita.
DSC04754
Mihrab.

Namun di sisi lain bangunan juga masih dapat kita temui bangunan katedral lengkap dengan patung-patung, mimbar, altar, dll.

DSC04763
Salah satu bagian dari Katedral.

Torre de Calahorra

Torre de Calahorra merupakan sebuah menara yang berada di sisi lain dari Jembatan Cordoba. Di dalam menara ini merupakan museum yang menceritakan banyak sejarah tentang Cordoba di masa lalu. Ketika memasuki menara, kita akan disambut oleh meja pembelian tiket. Karena waktu itu harga paket tur kami sudah termasuk tiket masuk Torre de Calahorra jadi kami tidak perlu membayar lagi dan langsung dibagikan headset untuk mendengarkan penjelasan mengenai isi di museum. Di bagian puncak menara, kita dapat menikmati pemandangan Kota Cordoba dari atas. Tapi karena waktu saya kesana masih musim dingin dan angin bertiup kencang sehingga kami memutuskan untuk tidak keluar ke puncak menara.

DSC04788

Setelah puas berkeliling di dalam menara dan mengikuti kisah sejarah masa lalu Cordoba, kami diantar kembali ke hotel untuk beristirahat. Seperti biasa, pukul 7 malam kami makan malam bersama di restoran halal tak jauh dari hotel.

Malam itu udara terasa dingin. Angin masih berhembus kencang. Jaket tebal pun masih melekat erat menghangatkan tubuh kami. Ada rindu yang menyesap. Perjalanan saya ini sudah hampir 2 minggu. Itu berarti juga sudah hampir 2 minggu bahkan lebih terhitung dari saya singgah beberapa hari dulu di Surabaya sebelum akhirnya terbang ke benua Eropa meninggalkan suami di Kupang.

Baru 2 hari tur, saya menyadari banyak hal. Salah satunya adalah begitu sedikitnya ilmu yang telah saya pelajari tentang islam. Ternyata semakin banyak tahu, saya semakin merasa kecil. Selagi masih ada waktu, ada baiknya belajar lagi, membaca lagi sejarah Islam. Sungguh banyak sekali hal yang bisa pelajari dan diambil hikmahnya.

Malam pun mulai larut dan kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan packing lagi karena keesokan harinya kami pindah kota lagi menuju Granada.

 

 

Islamic Heritage Tour in Spain (Day 1 – Seville)

Ada satu hal yang sangat melekat di hati saya ketika bergabung dengan tur ini saat tour guide kami mengingatkan bahwa:

In Islam, there are two main reasons why we are traveling. First is to seek knowledge and second is to learn from the history.”

Kata-kata itu seperti “menampar”, menyadarkan saya bahwa sejatinya sebagai seorang Muslim setiap melakukan perjalanan harusnya diniatkan pada dua hal tersebut. Karena pada kenyataannya saat ini, kehadiran social media seringkali membuat saya lupa. Niat pergi ke suatu tempat biasanya hanya untuk ticked off the travel bucketlists atau pamer di sosmed that we’ve been here and been there. Jadi, marilah kita mulai segala sesuatu dengan niat yang baik dan lurus sesuai apa yang diajarkan dalam Islam. Insha Allah, sepulang dari traveling pun banyak hal baru yang bermanfaat yang bisa kita dapatkan.

Okaaayy, sooooo….. di kesempatan ini saya ingin mengulas mengenai perjalanan saya sekeluarga (Mama, Papa, Renzy, Reyna) ke Spanyol bergabung dengan Islamic Heritage Tour by Andalucian Routes selama 4 hari pada Januari 2018 lalu. Rute dimulai dari penjemputan di Malaga Airport – Seville – Cordoba – Granada – Al pujarra – Malaga Airport. Oh iya, saya menyarankan bagi Anda yang fasih dan paham bahasa Inggris saja yang mengikuti tur ini karena tur ini full dalam Bahasa Inggris. Kalau nggak paham, sayang aja jadi nggak ngerti sejarah-sejarah yang diceritakan selama kegiatan tur ini. Tur dalam bahasa Indonesia juga banyak kok tersedia di agen travel di Indonesia tinggal googling saja 😀

Screen Shot 2018-04-23 at 21.33.15
Rute perjalanan kami di Spanyol selama 4 hari.

Hari pertama dimulai dengan penjemputan di Malaga Airport. Kami berkumpul di cafe bandara untuk menunggu peserta tur lain. Beruntungnya, walaupun kami memesan tur untuk umum (bukan private) peserta pada tur kali itu hanya 8 orang dengan 5 orang diantaranya adalah kami sendiri (Saya, Mama, Papa, Renzy, dan Reyna). Sedangkan tiga orang lainnya berasal dari Kanada, Amerika, dan Inggris. Karena peserta tur hanya 8 orang, maka mobilisasi kami memakai mobil van kapasitas 9 orang. Pas banget! Untung saja koper muat… Kami berlima memang agak heboh bawaannya, harap maklum karena perjalanan yang kami tempuh 15 hari menjelajahi 2 negara (Inggris dan Spanyol). Sebelum ke Spanyol, kami ke Inggris dulu untuk menghadiri wisuda master degree saya dan Renzy. Alhasil, dari Inggris pun kami membawa barang-barang pindahan yang belum sempat saya dan Renzy bawa ke Indonesia hahaha rempong sekaliiiii~

Dari Malaga Airport, kami minta mampir makan siang dulu di sebuah komplek pertokoan yang besar dekat bandara. Hanya ada dua restaurant berlogo halal disitu seingat saya. Kami pun memilih makan kebab halal dan dalam 15 menit sudah ludes semua karena kelaparan~ Perjalanan pun dilanjutkan menuju Seville dengan waktu tempuh sekitar 2 jam dengan mobil van. Sepanjang perjalanan dari Malaga Airport menuju Seville, pemandangan yang tersaji adalah gurun pasir. Iya, gurun pasir di sebelah kanan dan kiri jalan tol yang kami lewati. Sedikit banyak ini mengingatkan saya ketika perjalanan dari Jeddah menuju Mekkah ataupun ketika dari Mekkah menuju Madinah. Hamparan gurun pasir yang luas, kering, dan panas.

Sesampainya di Seville, kami diajak menuju Reales Alcazares de Sevilla atau The Royal Alcazar in Seville. Sejarah mencatat bahwa pada mulanya, The Royal Alcazar merupakan sebuah benteng pertahanan bangsa Moor (Moorish people) dari Afrika Utara. Pada awal abad ke 10 M pada masa pemerintah Khalifah Abdurrahman III. Namun pada saat Seville jatuh di tangan Ferdinand III (Fernando III of Castile) pada abad ke 13 M, The Royal Alcazar menjadi sebuah istana. Hingga kini, istana ini masih menjadi kediaman resmi keluarga Kerajaan Spanyol dan disinggahi ketika mereka berkunjung ke Seville. Cerita lebih lengkapnya bisa di googling yaa kalau saya yang cerita jadi panjang banget hehehe.

DSC04605
Arsitektur The Royal Alcazar yang kental dengan arsitektur Islam.
DSC04629
Arsitektur di dalam istana The Royal Alcazar.

Tidak hanya kompleks bangunan istana tempat kediaman keluarga kerajaan, di kompleks belakang istana, terdapat sebuah katedral besar dan megah dimana salah satu bagian bangunan katedral tersebut dulunya merupakan sebuah minaret yang terbesar di dunia. Saking besar dan tingginya, seorang muazzin yang hendak mengumandangkan adzan pada jaman dahulu harus menggunakan kuda untuk mencapai puncak minaret tersebut! Bisa dibayangkan betapa besarnya…. Dan hebatnya lagi, muazzin tersebut harus naik turun minaret untuk mengumandangkan adzan 5 kali dalam sehari dan setiap hari 😀 Perjuangan yang luar biasa bukan untuk mengingatkan umat Muslim melaksanakan ibadah sholat wajib?

DSC04668
The Giralda Seville
IMG-3328
The Giralda Tower that was once the biggest minaret in the world.

Langit mulai menampakkan raut senja merah, sebelum waktu ashar habis kami pun diantar kembali ke hotel. Pukul 7 malam, kami keluar lagi untuk menikmati makan malam di pusat Kota Seville. Nikmatnya ikut tur seperti ini adalah waktu sholat dan makanan halal insha Allah terjamin. Jalan-jalan tenang dan nyaman.  Aaand everyone’s happy 😀

…to be continued…

 

Disneyland, Paris in Spring 2017 (bahasa Indonesia)

Sungguh ini adalah tulisan yang tersimpan dalam bentuk draft selama 8 bulan lamanya, lupa mau nge-post. Semoga masih bermanfaat!

Tujuan saya menulis di  blog itu simple, bukan buat pamer, tapi supaya mudah kalau pengen liat dulu pas jalan-jalan kesini gimana caranya tinggal baca aja di blog sendiri hehe. Soalnya saya suka lupa, jadi dengan menulis dan mem-publish gini sih itung-itung juga bisa membantu temen-temen lain yang mungkin butuh. Jadi bermanfaat deh traveling experience-nya 😀

Okay, let’s get back to the point I want to write: Disneyland Paris.

IMG_1197

April 2017 lalu, saya, Renzy dan seorang temannya Nofinda pergi untuk short trip selama 9 hari ke tiga tujuan utama, yaitu Disneyland Paris, Keukenhof Lisse, dan Santorini. Kali ini saya cerita yang di Disneyland Paris dulu yaa dalam bentuk Q&A aja kali yaa biar gampang hehe

1. Kemana aja pas di Paris kemarin?

Well, karena kunjungan ke kota ini merupakan yang ketiga, jadi saya berniat cuma ke Disneyland aja. Tapi tetep nyempetin jalan-jalan di kota kayak ke Musee du Louvre (yang lagi-lagi belom kesampean buat masuk ke dalem), Tour Eiffel, dan Arc de Triomphe.

IMG_2500
Musee du Louvre saat senja.
IMG_6311
Menara Eiffel saat Spring bulan April 2017.

2. Berapa lama dan nginep dimana?

I spent 3 nights in Inter-Hotel Parisiana deket sama Gare du Nord, cuma sekitar 10-15 menit jalan kaki. Kenapa saya milih nginep deket Gare du Nord karena: (i) Gare du Nord merupakan stasiun kereta menuju Schipol untuk tujuan selanjutnya dan (ii) kereta menuju Disneyland juga lewat Gare du Nord. Jadi, mudah akses kemana-mana.

3. How to get to Disneyland Paris from Gare du Nord?

Tinggal pencet di mesin beli tiket metro aja return ticket ke Disneyland. Sekitar 12 euro deh kalau ga salah harganya. Jangan sampe ilang ya tiketnya! Nah, selama pergi tuh saya pasti pakai Google maps deh soalnya super penting biar ga ngabisin waktu buat baca peta. Jadi sebisa mungkin kalau pergi ada paketan internet ya!

4. Berapa harga tiket Disneyland dan beli dimana?

Pas saya ke Disneyland Paris, saya beli melalui situs https://www.365tickets.com/ untuk menghindari antrian nanti pada saat di pintu masuk. Beli dan bayarnya mudah. Tiket akan diemail dan kemudian kita print untuk dibawa ke Disneyland. Harga pada saat itu 45 GBP untuk tiket MAGIC 1 Day/1 Park. Terdapat 2 Park di Disneyland Paris: Disneyland Park dan Walt Disney Studios Park jadi jenis tiket dan harganya pun tergantung pilihan masing-masing.

5. Untuk muslim, sholatnya dimana?

Nah, di Disneyland Paris ini saya baru menemukan tempat yang bisa untuk sholat hanya di VIP room City Hall. Tentu kami harus izin dulu bahwa kami membutuhkan tempat untuk beribadah. Pintu tempat ruangan ibadah kami harus tetap dalam kondisi sedikit terbuka mungkin untuk memastikan petugas bahwa yang kami lakukan benar-benar beribadah.

6. Boleh bawa makanan masuk ke dalam nggak?

FYI, harga makanan di dalam area Disneyland itu sangat mahal! Percayalah! haha tapi untungnya kita boleh kok membawa makanan dan minuman ke dalam. Pada saat itu saya membawa bekal roti dan air sebotol. Memang kurang sih apalagi saya menghabiskan waktu seharian disana, mulai dari Disneyland itu baru buka sampai selesai 3D Illuminating Videos hahaha. Jadi tetep beli makanan di dalam.

7. Apa yang perlu dibawa ke Disneyland?

Pada Musim Semi seperti pada saat saya berkunjung kemarin, jaket masih diperlukan karena ketika matahari mulai terbenam, suhu juga mulai menurun. Bawa juga: kamera (bisa smartphone atau lainnya tergantung kebutuhan), dompet, paspor, power bank, sunglasses, minuman dan makanan secukupnya, tisu, dan alat sholat yang kecil aja. Pakai ransel aja biar nggak rempong pas main. Bawa barang seperlunya aja karena disini kan niatnya main! Seruuu jadi mengenang masa kecil nontonin kartun-kartunnya Disney 😀

8. Other things…

Yang unik dari Disneyland Paris pada Musim Semi adalah penayangan 3D Illumination jadi maleeemm banget jam 21.00! Pas itu nggak bawa jaket, lumayan juga semriwing angin kedinginan demi nonton 3D Illumination haha. Tapi tayangan ini nggak boleh dilewatin! Di sela-sela dan akhir tayangan tersebut akan ada fireworks yang kereeenn banget! Terharu tiap nonton 3D illumination dan fireworks-nya :”)

IMG_4804
fireworks pada saat penayangan 3D Illumination di Disneyland, Paris.

Sekian sharing singkat saya tentang Disneyland, Paris. Semoga bermanfaat! If you have any questions, do not hesitate to contact me!

Cheers!

Cerita dari Isle of Skye, Skotlandia (Part 2)

Glenbrittle

Hari pertama di Skye, kami menginap di Glenbrittle Youth Hostel dimana lokasi hostel ini cukup dekat dengan Fairy Pool. Tiba di hostel, saya cukup terpana karena bangunan hostel ini benar-benar berdiri di antara dataran kosong yang hanya ditumbuhi rerumputan, pohon, dan disampingnya terdapat aliran selokan yang sangat jernih dan bersih. Sejauh mata memandang, tidak nampak lagi bangunan lainnya. Di hamparan padang rumput tersebut, dapat kita temui sekawanan domba yang sedang merumput ataupun sesekali menyebrang jalan. Saking terpencilnya hostel ini, WiFi pun tidak disediakan!

DSC_1770
Glenbrittle Youth Hostel, Isle of Skye. Close to the Fairy Pool.

Hostel ini terdiri atas dua lantai saja dan terbuat dari kayu. Ketika masuk kita disambut oleh resepsionis di depan. Dari resepsionis, belok ke kanan melewati pintu kayu berkaca dapat ditemui ruang untuk bersantai. Terdapat beberapa buah sofa dan kursi kayu dengan rak buku dan boardgames di bagian sudut ruangan, pintu menuju dapur dan ruang makan, serta tangga menuju lantai 2. Segera kami menuju kamar kami di atas.

Saya dan Renzy memilih kamar female dorm. Kamar ini terdiri atas 3 bunk bed tingkat khusus wanita. Sedangkan tiga teman lainnya memilih kamar mixed dorm. Untuk fasilitas kamar mandi ada di lantai 2 ini. Menurut saya, hostel ini sangat nyaman karena bersih dan fasilitas lengkap (kecuali WiFi). Untuk harga, kalau di SYHA, harga £21 per orang itu sudah harga standard untuk kamar sharing lebih dari 6 orang. Kalau teman-teman pengennya private untuk dua orang juga bisa, tapi harga tentu lebih mahal dan tidak di semua hostel menyediakan kamar yang hanya untuk 2 orang. Kalau nggak pengen hostel, masih ada hotel ataupun B&B.

Seperti kembali ke era ketika internet masih terbatas, malam harinya kami habiskan dengan bersantai sembari makan malam, mengobrol, serta merencanakan untuk rute hari berikutnya. Setelah makan, saya menuju kamar untuk bersiap mandi dan membaca e-book sebelum tidur. Ternyata tanpa internet, saya pun masih bisa menikmati hehehe. Lokasi terpencil seperti ini yang kadang saya cari ketika sudah sangat penat dengan hiruk pikuk kota besar.

Keesokan paginya kami sarapan bersama, check out, kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Oh ya, urusan menyetir kami sepakat untuk gantian. Begitu pun sebagai navigator juga kami bertugas gantian. Cuaca pagi itu cerah! Secara singkat, rute yang kami ambil di hari kedua itu Dunvegan Castle – Neist Point – Quiraing – Kilt Rock – Portree – Old Man of Storr – Fort William untuk bermalam.

 

 

Dunvegan Castle

Hari itu kami memulai perjalanan pagi-pagi pukul 09.00 waktu setempat. Alasan kami mampir ke Dunvegan Castle adalah karena penasaran! Namun, karena kami tiba terlalu pagi yaitu pukul 09.30, sedangkan opening hour pukul 10 pagi, jadilah kami hanya mampir melihat dari kejauhan. Untuk masuk ke kastil ini ada biaya sebesar £7.50. Info lebih lengkap, ada disini. Gagal dengan tujuan pertama, kami pun melanjutkan untuk destinasi kedua yaitu Neist Point. Salah seorang teman saya yang pernah ke Skye mengatakan bahwa Neist Point highly recommended banget! Duh, jadi makin nggak sabar melihat Neist Point ini secara langsung! Waktu tempuh dari Dunvegan Castle menuju Neist Point hanya sekitar 30 – 40 menit.

Neist Point Lighthouse

Sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan, tak terasa kami telah tiba di destinasi kedua, yaitu Neist Point. Untuk setiap lokasi wisata di Skye, kita tidak perlu pusing mencari parkir karena pasti disediakan dan tentunya gratis! Setibanya disana, kami harus menuruni dan mendaki bukit (ada tangganya). Pemandangan yang tersaji selama kita berjalan menuruni dan mendaki bukit kecil ini adalah hamparan tebing diiringi dengan suara deburan ombak yang bersautan dengan suara kicau burung-burung. Magnificent! Sungguh indah! Sesaat rasanya lupa dengan semua penat. Oh ya, Neist Point ini terletak di ujung paling barat Isle of Skye. Dapat kita temukan sebuah mercusuar (Neist Point Lighthouse) yang telah ada sejak tahun 1900an setelah mendaki dan menuruni bukit.

DSC03255
Neist Point Lighthouse

Quiraing

Setelah menghabiskan beberapa saat di Neist Point, kami melanjutkan perjalanan menuju Quiraing. Waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Quiraing merupakan punggung bukit (ridge) yang berbatasan dengan laut lepas. Tersedia pula walk path yang dapat dilalui. Pada saat kami kesana, Quiraing sangat sangat sangaaattt ramai pengunjung! Parkir pun susah sekali penuh sesak mobil. Sempat kami terjebak disana selama hampir 1 jam hanya untuk putar balik! Akhirnya kami pun menyerah dan melanjutkan ke destinasi berikutnya.

Untuk destinasi-destinasi berikutnya akan saya ceritakan di bagian selanjutnya ya!

to be continued…

Cerita dari Isle of Skye, Skotlandia (part 1)

Baru-baru ini Skotlandia dinobatkan sebagai negara terindah di dunia oleh para pembaca Rough Guide 2017. Menurut saya, Skotlandia memang pantas menyandang ‘gelar’ tersebut karena keindahan alam yang luar biasa memukau, mulai dari danau atau loch dengan background perbukitan hingga padang rumput luas yang dipenuhi oleh domba dan sapi ‘gondrong’. Salah satu keindahan alam yang terkenal di Skotlandia adalah Isle of Skye, sebuah pulau seluas sekitar 1700 km2 yang terletak di sebelah pesisir barat dataran utama Skotlandia.

Saya berkunjung ke Isle of Skye pada pertengahan Bulan Juli 2017 lalu bersama dengan adik saya dan tiga orang teman lainnya. Hari Jumat, 19 Juli 2017 kami membuat janji untuk bertemu di Glasgow sebagai titik permulaan perjalanan kami. Kami berlima pun menyewa mobil di Glasgow untuk tiga hari ke depan. Karena jalur yang kami lalui menuju Isle of Skye merupakan dataran tinggi Skotlandia atau yang dikenal dengan The Highlands of Scotland (atau The Scottish Highlands) dimana sinyal untuk jaringan telepon susah (apalagi internet), maka kami pun berbekal offline map yang telah kami siapkan sebelumnya. Sebenernya bisa sih sewa GPS di tempat persewaan mobil, namun tarif yang dikenakan menurut kami lumayan mahal. Jadi, berbekal offline map di smartphone kami saja dirasa cukup.

Tujuan pertama kami adalah Fort William, salah satu kota besar yang masih berada di dataran Skotlandia. Di kota ini kami mengisi perbekalan kami seperti membeli air minum, telur, sereal, susu, snacks, membeli makan siang, dan mengisi bensin. Waktu yang ditempuh dari Glasgow menuju Fort William sekitar 3 jam. Selama perjalanan menuju Fort William, kami sempat berhenti di beberapa view points untuk berfoto ataupun sekedar berhenti, keluar mobil, menghirup udara segar, dan menikmati pemandangan alam sekitar. Dataran tinggi Skotlandia memang tak dapat dipungkiri lagi keindahannya ditambah lagi dengan keasrian yang benar-benar dijaga oleh pemerintah dan masyarakat sekitar. Air danau yang berwarna biru kegelapan, memantulkan pemandangan barisan perbukitan hijau dan langit yang sedikit bergantung awan mendung pada hari itu. Sungguh indah.

DSC_1618
photo credit:M Fadhillah Akbar

Sesampainya di Fort William, kami langsung melaksanakan tugas-tugas kami untuk berbelanja, membeli makan siang, dan mengisi bensin. Perjalanan pun kembali dilanjutkan menuju Skye. Hari pertama di Skye, kami menginap di Glenbrittle Youth Hostel yang terletak di pesisir barat Skye. Karena weekend saat itu, semua penginapan, baik itu hostel, hotel maupun B&B (bed & breakfast) penuh! Hostel yang kami tempati itu merupakan satu-satunya yang tersedia pada hari itu. Harga per orang per malam di hostel adalah £21 atau sekitar Rp 363.300 (misal £1 = Rp 17.300).

Ada beberapa opsi menginap yang bisa dipilih saat berkunjung ke Skye: hotel, hostel, B&B, dan camping ground. Disini camping ground tersedia untuk pengunjung yang ingin bermalam di tenda (dengan membawa kelengakapn tenda sendiri) ataupun untuk pengunjung yang membawa camper van. Di area camping ground, biasanya tersedia fasilitas area dapur umum dan toilet umum. Tentunya untuk menggunakan fasilitas camping ground ini tidak gratis. Pengunjung harus membayar harga sewa yang dikenakan per orang, namun tentu lebih murah dibandingkan opsi menginap yang lain. Uniknya di Skye, banyak sekali wisatawan mancanegara terutama berasal dari Eropa. Bahkan, camper van yang sering saya jumpai di Skye pun berplat nomor negara-negara EU seperti Belanda dan Perancis.

to be continued…