A way to home, Surabaya!

Bandung, 4 April 2012. 17:15 WIB

Setelah beberes koper dan oleh – oleh, aku segera masuk ke dalam taksi yang telah kupesan dua jam sebelumnya. Mataku menatap keluar jendela, sedikit melamun. Tiba – tiba aku tersenyum sendiri, terbayang wajah Mama, Papa, Renzy, Reyna, dan adik – adik sepupuku yang masih kecil. Kangen. Kangen sekali rasanya. Padahal baru satu bulan lalu mereka mengunjungiku di Bandung. Tapi tetap saja, rasa kangen yang amat besar pada rumah dan kota kelahiranku itu sangatlah besar. Tiga bulan sudah aku belum pulang. Bagi seorang Rizka Rahayu Putri, tidak pulang selama tiga bulan itu termasuk lumayan lama. Mengapa? Tentu saja karena Mama dan Papa membiasakan aku untuk rajin pulang mengunjungi mereka. Namun seiring berjalannya waktu, aku semakin mengatur dana untuk tiket pulang sekaligus berhemat. Kalau dihitung – hitung sih, dengan aku pulang jarang seperti sekarang ini, berarti sekalinya aku pulang, aku bisa menggunakan transportasi yang lebih nyaman dan cepat (baca : pesawat). Bukan bermaksud hedon atau boros. Tapi aku sudah menabung untuk hal tersebut. Selain itu juga, aku sudah tidak sabar bertemu dengan Mama dan Papa di rumah.

Tak terasa sampai juga aku di bandara Hussein Sastranegara. Setelah check in, aku masuk ke boarding room  dan menunggu pesawat datang. Sempat delay sekitar 30 menit karena cuaca yang memang sedang buruk, namun akhirnya berangkat juga daaaan sungguh aku tidak sabar menginjakkan kaki di Surabaya!

Surabaya, 4 April 2012. 20:30 WIB

Bahagianya aku melihat wajah Mama di depan pintu kedatangan. Setelah aku mengambil koper yang aku bagasikan, aku segera keluar dan menemui mereka. Kukecup tangan dan kedua pipi Mama. Mama lalu membantuku membawa barang dan kami berjalan menuju mobil. Di mobil, Papa telah menunggu kedatanganku. Segera aku mengucapkan salam pada Papa dan mencium tangan beliau. Kami bertiga pun berbincang obrolan hangat selama perjalanan menuju rumah. Ya Allah, betapa aku merindukan semua hal ini. Setelah banyak sekali kejenuhan yang aku alami selama kuliah, rasanya ketika aku melihat mereka, ada semangat baru yang menyuntikku.

Surabaya. Inilah kota dimana aku merasakan arti rumah yang sesungguhnya. Rasa aman, nyaman, tenteram, bahagia, dan berbagai macam memori serasa terputar kembali saat aku berada disini. Kota ini telah menjadi saksi kisah hidupku. Mulai dari aku baru lahir hingga akhirnya aku harus meninggalkan zona nyamanku.

Pada akhir masa SMA, aku telah memutuskan untuk kuliah di luar kota. Banyak hal yang aku pertimbangkan. Selain untuk proses menuju kedewasaan dan kemandirian, menurutku inilah saatnya aku berkembang jauh lebih maju. Lagipula kampus impianku memang berada di Bandung sehingga ya mau tidak mau aku harus meninggalkan kota kelahiranku ini.

Selama berada di Surabaya sekarang ini, aku benar – benar membiarkan diriku untuk bersenang – senang. Aku banyak menghabiskan waktu dengan Mama. Jalan – jalan ke mall,   wisata kuliner -sebagai sarana perbaikan gizi anak kosan-, dan bercerita banyak sekali hal dengan Mama. Aku sangat terbuka dengan beliau. Apapun akan aku ceritakan. Mulai masalah kuliah hingga masalah cinta. Saran dan semangat dari Mama sangat sangat aku butuhkan.

Begitu cepatnya waktu berlalu jika kita menikmatinya. Tak terasa sudah besokaku harus kembali ke Bandung. Menghadapi kenyataan hidup, kembali menatap lembar – lembar perkuliahan, dan berbagai macam kesibukan lainnya.

Surabaya, 8 April 2012. 07:30 WIB.

Bandara Juanda.

Inilah saat – saat yang paling dramatis selama dua tahun terakhir ini. Mengapa aku menyebutnya dramatis? Karena selalu ada air mata bercucuran saat aku berpamitan pada Mama untuk kembali ke Bandung. Entah mengapa, padahal sudah hampir dua tahun perjalanan Surabaya – Bandung sering kutempuh. Tapi tetap saja, setiap aku berpamitan untuk kembali ke Bandung aku pasti menangis. Aku mencium tangan Mama, mencium kedua pipinya, dan kemudian memeluknya erat sekali sambil berkata, “Ma, aku balik ke Bandung dulu ya. Doain kuliahku ya ma.” Sambil bercucuran air mata, aku terus memeluk Mama. Berat rasanya meninggalkan beliau. Akhirnya setelah adegan dramatis itu, aku berjalan masuk bandara dan melambaikan tangan pada Mama.

Tepat pukul 07:55 WIB, pesawat membawaku kembali ke Bandung. Dengan semangat baru dan kesibukan yang telah menunggu, aku mengikhlaskan diri menjalani semua. Demi kehidupan dan masa depan yang lebih baik. Bismillah!

“Rumah adalah tempat dimana disitu ada kehangatan keluarga. Rumah adalah tempat yang memberikan rasa nyaman, damai, tenteram, dan perasaan – perasaan indah lainnya ketika kau berada disana.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s