Untuk Bapak

Bandung, 1 Desember 2012

Hari ini bertepatan dengan 3 minggu Bapak pergi. Ya, pergi selama-lamanya. Masih sangat kurasakan kesedihan dan kehilangan mendalam karena kepergian Bapak.

Bapak H. Muhammad Slamet, almarhum.

Bapak
almarhum Bapak

Pak, aku masih ingat 3 minggu lalu. Ketika aku mendengar kabar bahwa Bapak sakit. Kondisi tubuh sangat drop dan tiba-tiba jatuh pingsan. Sungguh kaget dan tidak menyangka. Bapak sosok yang kuat, berbadan tegap dan besar, jarang sekali sakit, dan sangat tidak menyukai dokter apalagi rumah sakit, tiba-tiba sakit dan harus opname di rumah sakit. Itupun setelah mama, papa, dan semua om tante memaksa Bapak untuk memeriksakan diri ke dokter dan menjalani rawat inap.

Namun jantungku berdegup kencang ketika seusai makan malam sekitar pukul 18.30 mama menelepon. Suaranya parau karena menangis. “Riz, Bapak udah nggak ada… Tolong dimaafkan ya nak kesalahan Bapak. Tolong diikhlaskan juga kepergian Bapak. Bapak meninggal dunia dengan baik, insya Allah.”

Tidak ada satupun kata yang kuucapkan. Hingga beberapa detik. Tidak ada buliran air mata yang jatuh hingga setengah jam berikutnya. Aku hanya terdiam. Istighfar. Berusaha menelaah lagi apa yang diucapkan mama. Pening rasanya kepala ini. Masih sulit sekali memercayai kabar yang baru aku dapat.

Seusai menutup telepon dari mama, aku berlari ke kamar, menelepon agen tour dan memesan pesawat paling pagi keesokan harinya. Aku menelepon mama bahwa aku akan pulang. Dengan ditemani salah seorang temanku, aku pergi ke Jl. Padjajaran membeli tiket pulang. Ketika di perjalanan membeli tiket, barulah otakku dapat menelaah dan menyadari apa yang terjadi. Air mata ini sudah tidak terbendung lagi. Rangkaian cerita dan memori segalanya tentang Bapak tiba-tiba berputar di otakku.

Sudah sejak aku berumur 10 bulan, aku dirawat oleh kakek dan nenek dari mama sehingga aku begitu dekat dengan mereka. Bapak dan Ibu, ya begitulah aku memanggilnya. Aku masih ingat, ketika aku masih TK, Bapak dengan setia mengantarku ke sekolah. Bahkan ketika aku SD, Bapak lah yang selalu mengantar dan menjemputku di sekolah. Dengan sabarnya, dengan kasih sayang kepada cucunya, tidak hanya ke sekolah, ketika aku berangkat untuk les pun Bapak lah yang mengantar. Bertahun-tahun aku menyusahkan Bapak, membuatnya lelah, namun hanya sesekali kudengar Bapak mengeluh kelelahan. Namun ketika SMA, aku mulai jarang diantar Bapak lagi. Hanya sesekali ketika aku kelelahan sekolah dan menyetir.

Ketika di bangku kuliah, makin jarang aku bertemu Bapak. Satu hal yang aku sesali, aku jarang menelepon Bapak, sekedar berbincang atau menanyakan kabar 😦 terlalu sibuknya aku dengan kuliah, terlalu sibuknya aku dengan duniaku, hingga aku lupa bahwa Bapak, Ibu pun juga semakin tua. Seharusnya aku menyadari itu. Ya Allah… kini hanya kerinduan yang aku rasakan.

Pak, begitu membekasnya senyuman dan canda gurau Bapak di hati kami. Ketika aku pulang ke rumah pun, aku masih merasakan kehadiran Bapak. Bapak yang setiap sore bersepeda, dengan sepeda tuanya yang khas, mengunjungi rumah mama. Mungkin hanya sekedar mampir ataupun menyiram tanaman di halaman rumah. Bapak yang setiap minggu pagi dengan semangat dan rajinnya jalan pagi dengan ibu. Sesekali mampir ke rumah untuk mengajakku, Renzy, atau Reyna untuk jalan pagi. Namun begitu malasnya kami membuka mata dan masih asyik dibalik selimut melanjutkan tidur.

Bapak begitu dekat dengan semua cucunya. Sangat dekat. Dapat kurasakan ketika Bapak tiada, kami semua kehilangan sosok Bapak. Masih terus menetes air mata kami ketika kami berdoa untuk Bapak, ketika melihat foto keluarga yang terpajang di rumah ibu, ketika bercerita tentang masa-masa bersama Bapak. Sungguh ada yang hilang di hati kami semua.

11 November 2012, pesawat membawaku terbang kembali ke rumah. Dengan berbaju serba hitam aku langsung menuju rumah ibu dari bandara Juanda. Kulihat Papa, Renzy, dan Om Erwin telah menungguku di ujung jalan rumah ibu. Papa langsung memelukku dan merangkul bahuku, seolah tahu gejolak kesedihan dalam hatiku dan berusaha menenangkan. Hanya air mata yang menetes tanpa ucapan kata-kata, aku berjalan menuju rumah ibu dan melihat sudah banyak orang disana. Ternyata aku anggota keluarga terakhir yang ditunggu. Mama mengajakku ke dalam melihat jenazah Bapak. Takut yang kurasakan di awal. Namun mama membujukku dan akhirnya aku berani juga untuk melihat Bapak. Untuk yang terakhir kalinya… Begitu damai dan seolah hanya tertidur, kulihat wajah Bapak. Tidur panjang dan tidak akan terbangun lagi.

Seharian itu aku sering termenung, duduk, kemudian menangis. Waktu terasa begitu lama berputar dan sungguh seperti hari yang sangat panjang.

Sebelum Bapak menghembuskan nafas terakhir, sebelum Bapak dipindah ke ruang ICU, Bapak berkata pada Ibu bahwa kalau sakit tidak ingin merepotkan orang, sudah biar saja cepat dipanggil Allah SWT. Dan benar saja. Baru saja Bapak menunjukkan kondisi kesehatan menurun seminggu terakhir dan dua hari terakhir dengan kondisi kesehatan yang menurun sangat drastis dan belum juga sehari Bapak rawat inap, Allah SWT telah memanggil Bapak kehadapan-Nya.

Begitu cepatnya Bapak pergi. Begitu cepatnya Bapak meninggalkan kami semua. Dan betapa aku masih sangat sulit untuk mempercayai Bapak sudah tiada hingga 2 minggu setelah Bapak pergi. Aku masih sulit mempercayainya, Pak. Hingga suatu ketika Papa berkata, “Nggak ada seorang pun yang percaya mbak, Bapak pergi begitu cepat, tapi hanya satu hal yang membuat kita semua akhirnya percaya, bahwa garis umur manusia itu sudah ditentukan oleh Allah SWT”. Dari situlah Pak, aku belajar untuk benar-benar ikhlas melepaskan kepergian Bapak. Dari situ juga aku menjadi sangat percaya bahwa kematian sangatlah dekat dengan setiap umat manusia.

Semoga Bapak tenang di sisi Allah SWT. Semoga Bapak bahagia bersama bidadari surga. Untaian doa kami tidak akan pernah terputus untuk Bapak.

Dan satu kalimat yang mungkin belum pernah aku ucapkan kepada Bapak. Betapa aku sangat menyayangi Bapak. Dan betapa kami semua sangat mencintai Bapak.

we love you so much
we love you so much
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s