Disneyland, Paris in Spring 2017 (bahasa Indonesia)

Sungguh ini adalah tulisan yang tersimpan dalam bentuk draft selama 8 bulan lamanya, lupa mau nge-post. Semoga masih bermanfaat!

Tujuan saya menulis di ¬†blog itu simple, bukan buat pamer, tapi supaya mudah kalau pengen liat dulu pas jalan-jalan kesini gimana caranya tinggal baca aja di blog sendiri hehe. Soalnya saya suka lupa, jadi dengan menulis dan mem-publish gini sih itung-itung juga bisa membantu temen-temen lain yang mungkin butuh. Jadi bermanfaat deh traveling experience-nya ūüėÄ

Okay, let’s get back to the point I want to write: Disneyland Paris.

IMG_1197

April 2017 lalu, saya, Renzy dan seorang temannya Nofinda pergi untuk short trip selama 9 hari ke tiga tujuan utama, yaitu Disneyland Paris, Keukenhof Lisse, dan Santorini. Kali ini saya cerita yang di Disneyland Paris dulu yaa dalam bentuk Q&A aja kali yaa biar gampang hehe

1. Kemana aja pas di Paris kemarin?

Well, karena kunjungan ke kota ini merupakan yang ketiga, jadi saya berniat cuma ke Disneyland aja. Tapi tetep nyempetin jalan-jalan di kota kayak ke Musee du Louvre (yang lagi-lagi belom kesampean buat masuk ke dalem), Tour Eiffel, dan Arc de Triomphe.

IMG_2500
Musee du Louvre saat senja.
IMG_6311
Menara Eiffel saat Spring bulan April 2017.

2. Berapa lama dan nginep dimana?

I spent 3 nights in Inter-Hotel Parisiana deket sama Gare du Nord, cuma sekitar 10-15 menit jalan kaki. Kenapa saya milih nginep deket Gare du Nord karena: (i) Gare du Nord merupakan stasiun kereta menuju Schipol untuk tujuan selanjutnya dan (ii) kereta menuju Disneyland juga lewat Gare du Nord. Jadi, mudah akses kemana-mana.

3. How to get to Disneyland Paris from Gare du Nord?

Tinggal pencet di mesin beli tiket metro aja return ticket ke Disneyland. Sekitar 12 euro deh kalau ga salah harganya. Jangan sampe ilang ya tiketnya! Nah, selama pergi tuh saya pasti pakai Google maps deh soalnya super penting biar ga ngabisin waktu buat baca peta. Jadi sebisa mungkin kalau pergi ada paketan internet ya!

4. Berapa harga tiket Disneyland dan beli dimana?

Pas saya ke Disneyland Paris, saya beli melalui situs https://www.365tickets.com/ untuk menghindari antrian nanti pada saat di pintu masuk. Beli dan bayarnya mudah. Tiket akan diemail dan kemudian kita print untuk dibawa ke Disneyland. Harga pada saat itu 45 GBP untuk tiket MAGIC 1 Day/1 Park. Terdapat 2 Park di Disneyland Paris: Disneyland Park dan Walt Disney Studios Park jadi jenis tiket dan harganya pun tergantung pilihan masing-masing.

5. Untuk muslim, sholatnya dimana?

Nah, di Disneyland Paris ini saya baru menemukan tempat yang bisa untuk sholat hanya di VIP room City Hall. Tentu kami harus izin dulu bahwa kami membutuhkan tempat untuk beribadah. Pintu tempat ruangan ibadah kami harus tetap dalam kondisi sedikit terbuka mungkin untuk memastikan petugas bahwa yang kami lakukan benar-benar beribadah.

6. Boleh bawa makanan masuk ke dalam nggak?

FYI, harga makanan di dalam area Disneyland itu sangat mahal! Percayalah! haha tapi untungnya kita boleh kok membawa makanan dan minuman ke dalam. Pada saat itu saya membawa bekal roti dan air sebotol. Memang kurang sih apalagi saya menghabiskan waktu seharian disana, mulai dari Disneyland itu baru buka sampai selesai 3D Illuminating Videos hahaha. Jadi tetep beli makanan di dalam.

7. Apa yang perlu dibawa ke Disneyland?

Pada Musim Semi seperti pada saat saya berkunjung kemarin, jaket masih diperlukan karena ketika matahari mulai terbenam, suhu juga mulai menurun. Bawa juga: kamera (bisa smartphone atau lainnya tergantung kebutuhan), dompet, paspor, power bank, sunglasses, minuman dan makanan secukupnya, tisu, dan alat sholat yang kecil aja. Pakai ransel aja biar nggak rempong pas main. Bawa barang seperlunya aja karena disini kan niatnya main! Seruuu jadi mengenang masa kecil nontonin kartun-kartunnya Disney ūüėÄ

8. Other things…

Yang unik dari Disneyland Paris pada Musim Semi adalah penayangan 3D Illumination jadi maleeemm banget jam 21.00! Pas itu nggak bawa jaket, lumayan juga semriwing angin kedinginan demi nonton 3D Illumination haha. Tapi tayangan ini nggak boleh dilewatin! Di sela-sela dan akhir tayangan tersebut akan ada¬†fireworks¬†yang kereeenn banget! Terharu tiap nonton 3D illumination dan¬†fireworks-nya :”)

IMG_4804
fireworks pada saat penayangan 3D Illumination di Disneyland, Paris.

Sekian sharing singkat saya tentang Disneyland, Paris. Semoga bermanfaat! If you have any questions, do not hesitate to contact me!

Cheers!

Advertisements

CERITA DARI ISLE OF SKYE, SKOTLANDIA (Part 2)

Hari pertama di Skye, kami menginap di Glenbrittle Youth Hostel dimana lokasi hostel ini cukup dekat dengan Fairy Pool. Tiba di hostel, saya cukup terpana karena bangunan hostel ini benar-benar berdiri di antara dataran kosong yang hanya ditumbuhi rerumputan, pohon, dan disampingnya terdapat aliran selokan yang sangat jernih dan bersih. Sejauh mata memandang, tidak nampak lagi bangunan lainnya. Di hamparan padang rumput tersebut, dapat kita temui sekawanan domba yang sedang merumput ataupun sesekali menyebrang jalan. Saking terpencilnya hostel ini, WiFi pun tidak disediakan!

 

DSC_1770
Glenbrittle Youth Hostel, Isle of Skye. Close to the Fairy Pool.

 

Hostel ini terdiri atas dua lantai saja dan terbuat dari kayu. Ketika masuk kita disambut oleh resepsionis di depan. Dari resepsionis, belok ke kanan melewati pintu kayu berkaca dapat ditemui ruang untuk bersantai. Terdapat beberapa buah sofa dan kursi kayu dengan rak buku dan boardgames di bagian sudut ruangan, pintu menuju dapur dan ruang makan, serta tangga menuju lantai 2. Segera kami menuju kamar kami di atas.

Saya dan Renzy memilih kamar female dorm. Kamar ini terdiri atas 3 bunk bed tingkat khusus wanita. Sedangkan tiga teman lainnya memilih kamar mixed dorm. Untuk fasilitas kamar mandi ada di lantai 2 ini. Menurut saya, hostel ini sangat nyaman karena bersih dan fasilitas lengkap (kecuali WiFi). Untuk harga, kalau di SYHA, harga £21 per orang itu sudah harga standard untuk kamar sharing lebih dari 6 orang. Kalau teman-teman pengennya private untuk dua orang juga bisa, tapi harga tentu lebih mahal dan tidak di semua hostel menyediakan kamar yang hanya untuk 2 orang. Kalau nggak pengen hostel, masih ada hotel ataupun B&B.

Seperti kembali ke era ketika internet masih terbatas, malam harinya kami habiskan dengan bersantai sembari makan malam, mengobrol, serta merencanakan untuk rute hari berikutnya. Setelah makan, saya menuju kamar untuk bersiap mandi dan membaca e-book sebelum tidur. Ternyata tanpa internet, saya pun masih bisa menikmati hehehe. Lokasi terpencil seperti ini yang kadang saya cari ketika sudah sangat penat dengan hiruk pikuk kota besar.

Keesokan paginya kami sarapan bersama, check out, kemudian melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya. Oh ya, urusan menyetir kami sepakat untuk gantian. Begitu pun sebagai navigator juga kami bertugas gantian. Cuaca pagi itu cerah! Secara singkat, rute yang kami ambil di hari kedua itu Dunvegan Castle – Neist Point – Quiraing – Kilt Rock – Portree – Old Man of Storr – Fort William untuk bermalam.

Hari itu kami memulai perjalanan pagi-pagi pukul 09.00 waktu setempat. Alasan kami mampir ke Dunvegan Castle adalah karena penasaran! Namun, karena kami tiba terlalu pagi yaitu pukul 09.30, sedangkan opening hour pukul 10 pagi, jadilah kami hanya mampir melihat dari kejauhan. Untuk masuk ke kastil ini ada biaya sebesar £7.50. Info lebih lengkap, ada disini. Gagal dengan tujuan pertama, kami pun melanjutkan untuk destinasi kedua yaitu Neist Point. Salah seorang teman saya yang pernah ke Skye mengatakan bahwa Neist Point highly recommended banget! Duh, jadi makin nggak sabar melihat Neist Point ini secara langsung! Waktu tempuh dari Dunvegan Castle menuju Neist Point hanya sekitar 30 Р40 menit.

Sambil menikmati pemandangan sepanjang jalan, tak terasa kami telah tiba di destinasi kedua, yaitu Neist Point. Untuk setiap lokasi wisata di Skye, kita tidak perlu pusing mencari parkir karena pasti disediakan dan tentunya gratis! Setibanya disana, kami harus menuruni dan mendaki bukit (ada tangganya). Pemandangan yang tersaji selama kita berjalan menuruni dan mendaki bukit kecil ini adalah hamparan tebing diiringi dengan suara deburan ombak yang bersautan dengan suara kicau burung-burung. Magnificent! Sungguh indah! Sesaat rasanya lupa dengan semua penat. Oh ya, Neist Point ini terletak di ujung paling barat Isle of Skye. Dapat kita temukan sebuah mercusuar (Neist Point Lighthouse) yang telah ada sejak tahun 1900an setelah mendaki dan menuruni bukit.

DSC03255
Neist Point Lighthouse

Setelah menghabiskan beberapa saat di Neist Point, kami melanjutkan perjalanan menuju Quiraing. Waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Quiraing merupakan punggung bukit (ridge) yang berbatasan dengan laut lepas. Tersedia pula walk path yang dapat dilalui. Pada saat kami kesana, Quiraing sangat sangat sangaaattt ramai pengunjung! Parkir pun susah sekali penuh sesak mobil. Sempat kami terjebak disana selama hampir 1 jam hanya untuk putar balik! Akhirnya kami pun menyerah dan melanjutkan ke destinasi berikutnya.

Untuk destinasi-destinasi berikutnya akan saya ceritakan di bagian selanjutnya ya!

 

to be continued…

CERITA DARI ISLE OF SKYE, SKOTLANDIA (part 1)

Baru-baru ini Skotlandia dinobatkan sebagai negara terindah di dunia oleh para pembaca Rough Guide 2017. Menurut saya, Skotlandia memang pantas menyandang ‘gelar’ tersebut karena keindahan alam yang luar biasa memukau, mulai dari danau atau loch dengan background perbukitan hingga padang rumput luas yang dipenuhi oleh domba dan sapi ‘gondrong’. Salah satu keindahan alam yang terkenal di Skotlandia adalah Isle of Skye, sebuah pulau seluas sekitar 1700 km2 yang terletak di sebelah pesisir barat dataran utama Skotlandia.

Saya berkunjung ke Isle of Skye pada pertengahan Bulan Juli 2017 lalu bersama dengan adik saya dan tiga orang teman lainnya. Hari Jumat, 19 Juli 2017 kami membuat janji untuk bertemu di Glasgow sebagai titik permulaan perjalanan kami. Kami berlima pun menyewa mobil di Glasgow untuk tiga hari ke depan. Karena jalur yang kami lalui menuju Isle of Skye merupakan dataran tinggi Skotlandia atau yang dikenal dengan The Highlands of Scotland (atau The Scottish Highlands) dimana sinyal untuk jaringan telepon susah (apalagi internet), maka kami pun berbekal offline map yang telah kami siapkan sebelumnya. Sebenernya bisa sih sewa GPS di tempat persewaan mobil, namun tarif yang dikenakan menurut kami lumayan mahal. Jadi, berbekal offline map di smartphone kami saja dirasa cukup.

Tujuan pertama kami adalah Fort William, salah satu kota besar yang masih berada di dataran Skotlandia. Di kota ini kami mengisi perbekalan kami seperti membeli air minum, telur, sereal, susu, snacks, membeli makan siang, dan mengisi bensin. Waktu yang ditempuh dari Glasgow menuju Fort William sekitar 3 jam. Selama perjalanan menuju Fort William, kami sempat berhenti di beberapa view points untuk berfoto ataupun sekedar berhenti, keluar mobil, menghirup udara segar, dan menikmati pemandangan alam sekitar. Dataran tinggi Skotlandia memang tak dapat dipungkiri lagi keindahannya ditambah lagi dengan keasrian yang benar-benar dijaga oleh pemerintah dan masyarakat sekitar. Air danau yang berwarna biru kegelapan, memantulkan pemandangan barisan perbukitan hijau dan langit yang sedikit bergantung awan mendung pada hari itu. Sungguh indah.

DSC_1618
photo credit:M Fadhillah Akbar

Sesampainya di Fort William, kami langsung melaksanakan tugas-tugas kami untuk berbelanja, membeli makan siang, dan mengisi bensin. Perjalanan pun kembali dilanjutkan menuju Skye. Hari pertama di Skye, kami menginap di Glenbrittle Youth Hostel yang terletak di pesisir barat Skye. Karena weekend saat itu, semua penginapan, baik itu hostel, hotel maupun B&B (bed & breakfast) penuh! Hostel yang kami tempati itu merupakan satu-satunya yang tersedia pada hari itu. Harga per orang per malam di hostel adalah £21 atau sekitar Rp 363.300 (misal £1 = Rp 17.300).

Ada beberapa opsi menginap yang bisa dipilih saat berkunjung ke Skye: hotel, hostel, B&B, dan camping ground. Disini camping ground tersedia untuk pengunjung yang ingin bermalam di tenda (dengan membawa kelengakapn tenda sendiri) ataupun untuk pengunjung yang membawa camper van. Di area camping ground, biasanya tersedia fasilitas area dapur umum dan toilet umum. Tentunya untuk menggunakan fasilitas camping ground ini tidak gratis. Pengunjung harus membayar harga sewa yang dikenakan per orang, namun tentu lebih murah dibandingkan opsi menginap yang lain. Uniknya di Skye, banyak sekali wisatawan mancanegara terutama berasal dari Eropa. Bahkan, camper van yang sering saya jumpai di Skye pun berplat nomor negara-negara EU seperti Belanda dan Perancis.

to be continued…

Lessons learned during the long trip with family

Throwing back on 31 August 2016, the day I left my beloved homeland Indonesia to pursue M .Sc. in the University of Hull, England. My family planned to have a trip before Renzy and I started the school. Therefore, we made a route from London to Amsterdam for 3 weeks period. Yeah, 3 weeks!! It was quite challenging because on  one hand we (me and Renzy) had to press the budget, but on the other hand we have to provide a proper and comfortable trip with the limited budget! It took us around 3-4 weeks to make the trip route, to book all the accommodation, and not to mention the destination entry tickets for the five of us.

The route we had agreed on was:

London – Hull – Paris – Colmar – Zurich – Mt. Titlis – Munich – Cologne – Amsterdam.

The route above is not included the one day trip we had, such as to Oxford, Windsor Castle, Cambridge, Versailles, Bern, Fussen (Neuschwanstein Castle), and The Hague. *If you may need the complete itinerary, you may contact me and I will send an email to you privately*

The long trip we had was definitely an unforgettable yet an exhausting one. Arguing, complaining, and a little drama could not be separated and it seemed to appear almost every day. One thing that I am going to tell everyone who plans to have a long trip with family (especially your parents and siblings) without the help of travel agent is that we have to accept all of the consequences together. Blaming each other and complaining is just a waste of energy and become main issues that will arise conflicts and worsen the situation. So, it would be nicer to enjoy the good and bad experiences during the trip instead.

London

Living in London means you have to prepare for extra (literally extra) money to spend on the public transportation. Selain memang mahal tarifnya (apalagi berlima jadi kudu dikali 5 *cry*), keliling London memang paling pas hop on hop off bus dan tube supaya nggak capek. Soalnya saya rasa it is impossible to cover all the destinations in London on foot. Gila capek bok! Banyak banget tempat yang bisa dikunjungi di London. Saking banyaknya, 5 hari aja rasanya nggak cukup buat bener-bener mengeksplor kota ini. Oh ya, wajib punya Oyster card ya kalau di London supaya mudah naik turun bus dan tube! Dari pertama menginjakkan kaki di London, saya jatuh cinta sama kota ini. London adalah kota kedua yang saya sangat suka setelah Istanbul! This vibrant city offers a nice ambiance. Rute jalan yang saya suka adalah menyusuri Westminster Bridge menuju Trafalgar Square melalui White Hall. Kota ini juga memiliki highly diversity of culture. Berbagai macam orang dari berbagai penjuru dunia bisa ditemui disini.

 

SAMSUNG CSC
the iconic Big Ben

 

Colmar

Pengalaman paling buruk adalah ketika kami di Colmar. Pada saat itu seharusnya kami menghabiskan 2 malam di apartemen yang telah kami sewa di airbnb. Namun, karena ternyata letak apartemen tersebut berada di lantai 3 tanpa akses lift, hanya tangga, sedangkan bawaan kami berupa 5 koper besar dan 3 kecil, it was almost impossible to lift all those luggages upstairs. Kami menyerah dan akhirnya merelakan apartemen tersebut dan memilih untuk segera menelepon hotel terdekat (Ibis dan Mercure). Karena keadaan kepepet pada malam itu, kami pun harus terpisah 2 hotel. Aku dan Renzy menginap di Mercure, sedangkan mama, papa, dan Reyna di Ibis. Kacau haha iya kacau banget. Tapi setidaknya jadi pembelajaran bagi kami dan kalian semua untuk membaca baik-baik informasi di profile si penyewa apartemen di airbnb dan tanyakan apa ada akses lift jika kita memang dalam kondisi membawa koper berat untuk akses apartemen yang terletak tidak di lantai dasar.

Keesokan paginya, kami pun berusaha melupakan dan mengikhlaskan kejadian semalam. Setidaknya, suasana Colmar berhasil menghibur kami. Karena destinasi favorit saya adalah old town, Colmar menjadi pilihan tepat untuk merasakan bagaimana pelannya waktu berputar selagi menikmati cuaca yang cerah pada saat itu. Dari pengamatan saya, pengunjung yang datang berkunjung ke kota ini kebanyakan orang yang sudah tua haha membaca buku saat pagi hingga siang di outdoor cafe mungkin menjadi salah satu aktivitas yang menyenangkan selain mengunjungi Little Venice di pusat kota.

 

SAMSUNG CSC
My parents were enjoying the Little Venice

 

Switzerland

Pengalaman ‘mengesankan’ lainnya adalah ketika di Swiss, tepatnya di Zurich. Saat kami menginap di Zurich kebetulan bertepatan dengan hari libur kota tersebut, dimana tidak ada toko yang buka!! Hahaha. Bahkan mencari supermarket yang buka pun sangat sangat susah. Hanya restaurant saja yang alhamdulillah masih buka jadi kami masih bisa mencari makan di luar. Jangan tanya soal harga makanan disini! Sangat menyayat mata, hati, dan dompet karena sangat mahal. Bahkan lebih mahal dari London menurut saya. Terlalu banget deh. Tapi memang keindahan alam di Swiss tidak tergantikan. Cuma living cost-nya aja yang bikin nangis. Selama di Swiss kami menikmati paparan lanskap hijau dari perbukitan dan putih dari pegunungan bersalju. Sepanjang perjalanan menuju Engelberg, suguhan keindahan alam membuat kami tak bisa memalingkan mata walau sejenak dari jendela kereta. Then, another lesson learned: kindly check the calendar for the national/local holiday!

 

SAMSUNG CSC
I was enjoying the lake view in Zurich. The water is like crystal clear in turquoise!

 

Cologne

Agak salah sih ke Cologne di bulan September. Menurut saya kota ini membosankan. Hanya katedral tua besar yang terkenal yang menjadi main attraction di kota ini. Seandainya di bulan lain, mungkin ada yang lebih menarik, misalnya Christmas Market. Ada saran?

In summary, perjalanan 3 minggu ini sungguh sangat tidak terlupakan. We spent our time together before separated thousands miles away. Terima kasih banyak teruntuk Papa dan Mama. Semoga perjalanan lainnya lebih menyenangkan dengan less conflicts dan complains hehe amiin.

 

Disneyland, Hong Kong yang Muslim Friendly

Awal Juli 2016 bertepatan juga dengan libur Hari Raya Idul Fitri 1433H, saya dan keluarga berkesempatan untuk berlibur ke China, Hong Kong, dan Macau selama 10 hari. Karena keputusan untuk liburan ini cukup mendadak, jadilah kami memutuskan untuk memakai jasa agen travel saja. Biasanya sih, saya dan Renzy berdua ngurusin segala kebutuhan menyangkut traveling di keluarga kami. Namun, karena kesibukan di kantor dan juga persiapan untuk mendaftar S2 saat itu, akhirnya bergabung dengan grup tur merupakan opsi terbaik.

Ini adalah kali pertama saya memakai jasa agen travel untuk grup tur. Kalau harus membandingkan sih, saya merasa banyak nggak nyamannya ya walaupun dalam beberapa hal enak juga.

Kekurangan bergabung dengan group tour (menurut saya pribadi):

  1. Karena saya tipe yang nggak suka diatur apalagi harus ngikutin rangkaian jadwal tur yang padat, jadi aja saya benar-benar merasa nggak nyaman.
  2. Lokasi kunjungan sudah ditentukan jadi tidak bisa memilih sesuka hati mau pergi kemana. Beberapa lokasi kunjungan saya rasa nggak terlalu penting untuk dikunjungi. Tapi untungnya dalam tur ini, ada waktu bebas 2 hari di Hong Kong.
  3. Harus sabar saling menunggu terutama ketika diberi jadwal untuk belanja. Banyak anggota grup tur yang tidak on time, jadi capek juga nunggunya.
  4. Meskipun selama tur makan yang disediakan selalu enak, tapi karena kurang variatif jadi membosankan. Padahal saya suka banget eksplor makanan lokal (yang pasti halal) pinggir jalan atau kedai kecil dibanding harus terus-terusan makan di restoran mahal.

Kelebihannya:

  1. Semua sudah beres diatur oleh agen travel, jadi kita tinggal bayar lunas, beres deh semuanya. Nggak perlu susah cari penginapan, menyusun itinerary, mengatur transportasi, dll.
  2. Nggak repot mengurus visa Cina. Nah ini enak banget soalnya karena Cina, Hong Kong, dan Macau ini letaknya dekat dan selalu melewati perbatasan, jadi visa grup memang lebih mudah. Visanya hanya secarik kertas A4 berisi nama-nama rombongan. Namun ada juga visanya yang berupa secarik kertas seperti struk belanjaan haha.

Ada pengalaman unik yang saya rasakan selama liburan di Cina ini, yaitu betapa umat muslim merupakan kaum minoritas di negeri ini (mungkin di kota-kota yang saya kunjungi lebih tepatnya). Selama di China mainland, saya belum pernah bertemu dengan sesama umat muslim terutama yang memakai hijab. Jadilah, kami bak makhluk asing yang selalu menjadi pusat perhatian karena memakai hijab!

img-20160803-wa0012
Welcome to magical world in Hong Kong Disneyland!

Nah, di blog ini sebenarnya saya cuma mau share lokasi sholat di Disneyland, Hong Kong hehe. Semua orang pasti tau taman bermain yang terkenal ini, jadi saya tidak perlu menceritakan lagi bagaimana isi Disneyland :p Untuk pengalaman saya pribadi, ada 2 lokasi yang saya gunakan untuk tempat sholat di Disneyland ini, yaitu di VIP room City Hall (dekat dengan pintu masuk utama) dan musholla yang terletak tepat di sebelah kamar mandi wanita di daerah Mystic Point. Untuk kelengkapan sholat, harus bawa sendiri ya karena disini tidak disediakan apapun kecuali ruangan. Untuk cewek ya disarankan membawa sajadah kecil dan mukenah sendiri.

Hari terakhir di perjalanan liburan ini merupakan free day bagi kami semua, jadi bisa memilih mau pergi kemana sesuka hati. Kami pun memutuskan untuk berburu dimsum halal yang ada di kantin islamic center Hong Kong, tepatnya di lantai 5. Dimsumnya enak!! Nasi goreng dan mi pun enak! Nggak ada makanan yang nggak enak di kantin ini. Harganya pun terjangkau sekali. Jadi win-win solution sekali untuk moslem traveler di Hong Kong yang bingung mencari makanan halal. Untuk alamat lengkapnya:

5/F, Masjid Ammar And Osman Ramju Sadick Islamic Centre, 40 Oi Kwan Road, Wan Chai, Yat Sin St, Wan Chai, Hong Kong

Overall, liburan ke Cina, Hong Kong, dan Macau kemarin sejujurnya saya hampir nggak nikmatin sama sekali. Mungkin karena pemilihan waktu juga yang salah. Karena pada saat itu, cuaca lagi luar biasa panasnya! Bermain di Disneyland pun jadi kurang nyaman karena panaaas sekali hampir tidak ada angin yang berhembus. Jadi jangan mengunjungi Hong Kong dan Cina pada saat bulan Juli ya! Kedua, langit Hong Kong sudah abu-abu seperti Jakarta, yes it’s polluted. Hong Kong tidak seperti yang saya bayangkan haha sedikit kecewa. Ketiga, Macau merupakan the Vegas of China. Jadi ya kalau ke Macau cuma ngeliatin aja interior mewah dari casino disana dan mengunjungi bekas reruntuhan gereja St. Paul. Bangunannya khas Eropa karena pada sejarahnya Macau merupakan bekas jajahan Portugal. Jadi¬†signage systems di Macau biasanya dalam 3 bahasa, yaitu Mandarin, Inggris, dan Portugis. Keempat, banyak kunjungan tempat wisata yang saya nggak suka, seperti tempat obat herbal, bamboo product, dan perhiasan yang ujung-ujungnya pasti jualan dan jadinya kita pada ketahan nggak boleh ninggalin lokasi. Padahal mah ya nggak tertarik banget buat beli tapi agak dipaksa gitu kesannya buat tetap mendengarkan mereka berjualan. Ya, namanya juga usaha ya, jadi ya sudahlah.

Tapi satu moment yang saya nggak akan pernah lupa di Disneyland yaitu pada saat pemutaran 3D mapping kilasan film-film karya Disney yang kemudian disusul dengan fireworks yang sangat indah! Jujur saya terharu ketika menyaksikan film 3D mapping tersebut karena penonton diajak flashback melihat cuplikan film Disney mulai dari yang paling klasik sampai terbaru.

2110
The sleeping beauty castle

Setelah mengalami nggak enaknya liburan full bersama agen travel, rasanya itu adalah yang pertama dan terakhir saya liburan menggunakan jasa agen travel, kecuali nanti umroh dan haji beda cerita lagi hehe. Terbiasa dengan kenikmatan mengatur jadwal sendiri dan menurut saya ada sense of art nya aja gitu ketika menyusun jadwal liburan, mencari destinasi kunjungan, berburu tiket pesawat dan transportasi lokal yang murah, apply visa di kedutaan, sampai membaca hotel reviews – saya sangat menikmati proses tersebut. Repot tapi seruuu!

Sekian cerita pengalaman saya, semoga bermanfaat! Kritik dan saran mengenai cerita perjalanan saya dan mungkin juga susunan blog sangat saya nantikan!

Thank you for reading and hope you enjoy the story ūüôā

2060
Hong Kong
1974
The most famous and delicious Portuguese egg tart in Macau

 

1945
Zhuhai city from above

How I spend 4 days in Bangkok

Hi, I’m back!!

This time I’m going to write about my journey to Bangkok last May 2016. Anyway, this blog will be written in 2 languages, Indonesia and a little bit of English. Agak males mikir translate. Kayaknya kalau dipikir-pikir udah berapa posting-an saya dalam bahasa Indonesia ya hehe.

Pada 5-8 Mei 2016 lalu bertepatan dengan libur panjang, siapa sih yang nggak pengen manfaatin libur 4 hari ini dengan maksimal?? Di tengah padetnya dan jenuhnya kerjaan pas itu, akhirnya sepakat deh buat ngisi¬†long weekend itu buat ke Bangkok aja yang deket dan kebetulan emang belom pernah. Sekitar 2 bulan sebelum hari H, saya dan Renzy mulailah¬†browsing tiket, hotel, dan destinasi mau kemana aja. Biar mudah dan enak, I’ll write down the details below. Soalnya lumayan banyak yang nanyain itinerary saya pas ke Bangkok. Padahal ya nggak spesial-spesial amat gitu susunannya hahaha. Pas ke Bangkok ini niatnya lagi pengen¬†slow travel. Nikmatin hidup, nikmatin setiap waktu yang berputar, jelajah makanan kaki lima, dan sebenernya banyak destinasi yang baru direncanain tuh pas di Bangkok-nya hehe.

 

Transportation Mode

1 Plane

As we know that Bangkok is the capital city of Thailand. Meskipun letaknya hanya 3 jam penerbangan langsung dari Surabaya, rupanya tiket pesawat dari Surabaya ke Bangkok itu lumayan mahal! Akhirnya saya belinya ngeteng, nggak direct flight Surabaya (SUB) РDon Mueang (DMK) soalnya dapetnya lebih murah. Dengan menggunakan Air Asia, saya beli rute seperti ini:

4 Mei 2016 malem terbang dari Surabaya (SUB) ke Kuala Lumpur (KUL),¬†5 Mei 2016 pagi (saya ambil penerbangan paling pertama) dari Kuala Lumpur (KUL) ke Don Mueang (DMK). Begitupun untuk rute pulangnya, saya transit lagi di Kuala Lumpur. 8 Mei 2016 sore berangkat dari Don Mueang (DMK) ke Kuala Lumpur (KUL), 9 Mei 2016 (harusnya¬†first flight) dari Kuala Lumpur (KUL) ke Surabaya (SUB). Simpelnya, saya ambil rute pulang-pergi SUB-KUL dan KUL-DMK.¬†Agak ribet ya? Kalau nggak doyan jalan-jalan kayak saya, mungkin nggak akan mau repot ambil rute gini. Tapi karena ini udah rute dengan harga tiket penerbangan paling murah ‚ÄĒcuma Rp 3jt loh, dibanding kalau¬†direct flight¬†Surabaya ke Bangkok waktu itu Rp 6-7jt, dua kali lipat dong mahal banget‚ÄĒ jadi ya sudah kita jalanin dan nikmatin aja segala ketidakpraktisan ini.

Ngomongin soal maskapai, agak kesel sama si AirAsia karena ada penundaan jadwal penerbangan untuk rute KUL-SUB dan saya tuh baru dapet email H-1 dong pas lagi di Bandara Don Mueang. Udah mah nggak enak banget kan sama atasan dan orang-orang kantor, untung aja mereka baik banget bisa maklumin. Entah waktu itu siapa yang salah, saya juga paling males cari-cari kesalahan orang. Katanya si AirAsia ini udah ngehubungin temen saya yang waktu itu mesenin tiket tapi gagal dihubungin. Tapi ya sudahlah, yang bikin saya kecewa tuh ada dua pas itu, temen saya yang nggak bisa dihubungin dan cara ngomong si petugas customer service AirAsia yang nggak ada ramahnya sama sekali.

20160505_083137
Don Mueang International Airport, Bangkok. Bandaranya tua, jadi inget Bandara Hang Nadim di Batam hehe.

 

2 Bus

Sesampainya di Bangkok, setelah melalui proses imigrasi dan ambil bagasi, kami langsung menuju pemberhentian bis A1. Bis tersebut akan membawa kami menuju BTS Mo Chit dengan harga tiket untuk masing-masing orang 30 THB atau sekitar Rp 12,000 saja.

Bis A1 tersebut terlihat sudah berumur puluhan tahun. Seperti kembali ke era 90an rasanya ketika menaiki bis tersebut. I’ll show you the picture below ūüôā

20160505_083400
inside the A1 bus

3 BTS

BTS atau Bangkok Train Station (iya nggak sih? haha) adalah salah satu moda transportasi umum yang sudah melingkupi sebagian besar wilayah Bangkok terutama tempat wisata. Jadi cukup mudah pergi di Bangkok dengan BTS ini. Harga tiket tergantung jauh dekat tujuan kita, jadi makin jauh ya makin mahal.

20160505_091105

 

4 UBER

Bersyukurlah saya yang hidup di jaman serba mudah karena kecanggihan teknologi sekarang. Adanya UBER ini benar-benar memudahkan saya untuk mobilisasi. Kalau Anda traveling in small group (3-4 people) dan di negara tersebut ada UBER, saran saya gunakanlah UBER karena harga terjangkau, langsung dijemput di lokasi dan nyampe pas di lokasi tujuan, nggak perlu jalan jauh, mesennya gampang asal ada internet, dan mobilnya bagus-bagus pula (kecuali di Indonesia) hehehe.

Hari pertama saya di Bangkok, seharian saya menggunakan BTS karena terlanjur juga beli 1-day pass. Lalu saya bandingin di hari kedua menggunakan UBER, yah BTS lewat deh. Karena pas itu pergi juga bertiga, menggunakan UBER merupakan opsi terbaik. Apalagi suhu di Bangkok yang saat itu sangaaattt panas! Bangkok’s temperature reached 39¬įC during my stay.

 

5 Tuk tuk

Tuk tuk merupakan kendaraan roda 3, kalau¬†di Indonesia kita tahunya bajaj. Persis. Saya naik tuk tuk pada saat dari Wat Pho menuju Grand Palace. Padahal jaraknya dekat banget, cuma harus muter dikit ke pintu masuk dan karena pada saat itu panasnya masha Allah nyengat bukan main, jadi ya sudah naik tuk tuk aja biar asik ngerasain naik transportasi lokal hehe. Saya lupa bayarnya berapa tapi yang jelas nggak mahal dan bisa ditawar kok! Jadi, pinter-pinternya aja nawar ya ūüôā

 

Accommodation

Sebelum bepergian, untuk memilih akomodasi tempat tinggal saya selalu mempertimbangkan beberapa hal, yaitu harga dan reputasi hotel/hostel/apartemen tersebut, letaknya dekat dengan stasiun MRT atau paling tidak halte bis, terakhir adalah dengan siapa saya pergi.

Karena ke Bangkok perginya nggak sama orang tua, jadi penginapan pun saya bujetin yang murah-murah saja yang penting bersih, nyaman, dan dekat kemana-mana. Pilihan kami pun jatuh pada Monomer Hostel yang terletak di dekat BTS Ratchathewi. We rent 2 beds in female dorm and 1 bed in male dorm. Harganya cuma 1325 THB saja per orang untuk 3 malam dengan fasilitas 1 kamar berisi 12 beds, bersih banget, petugas hostelnya anak-anak muda yang ramah dan helpful, and free breakfast!

Yang paling bikin saya puas banget sudah memilih hostel ini adalah karena lokasinya yang strategis. It is located only 1 minute walk to BTS Ratchathewi and along the way to the BTS is a place where you can find and buy some street food at affordable price. Moreover, if you’re moslems, then this hostel will be your best choice as it is situated very close to the mosque and moslem area in Bangkok so it’s very easy to find halal food here. What a good deal! The nearest mosque from the hostel is Darul Aman Mosque. And yes, it is also near to the Indonesian Embassy which is located in Petchaburi Road. Lastly, I would highly recommend you to stay at this hostel ūüôā

20160506_093233
Monomer Hostel Bangkok
20160505_192253
Guests’ feedbacks. Lovely corner.
IMG-20160507-WA0014
Me and my sister having dinner and enjoying the night in the hostel

 

Places to Go

Selama di¬†Bangkok, niat¬†saya cuma pengen 2 hal saja: mengunjungi museum dan jajan¬†street food. Simpel kan? Jadi, untuk mempersingkat I’ll put some photos of my destinations below.

1 Grand Palace

Lokasi Grand Palace, Wat Arun, dan Wat Pho ini semua berdekatan. Jadi kalau berkunjung bisa sekaligus dalam 1 hari untuk ringkasnya. Biaya tiket masuk ke Grand Palace adalah 500 THB. Mengutip dari selebaran info mengenai tempat wisata ini, jadi area Grand Palace dibangun pada tahun 1782 dengan luas 218,000 m² (gedeee banget). Di kompleks ini terdapat royal residence, throne halls, government offices, juga Temple of the Emerald Buddha.

Kalau ke Bangkok pas lagi puncaknya musim panas kayak pas saya kemarin kesana, jangan lupa ya pakai sunblock dengan spf tinggi dan bawa payung juga kacamata hitam! Penting! Jangan lupa juga banyak minum air! Bangkok kalau lagi musim panas nggak nanggung-nanggung. Panas banget!!

20160506_151603

20160506_144709
amazingly beautiful details

2 Wat Pho

Tau patung reclining Buddha nggak? Nah, you can find the reclining Buddha statue here, in Wat Pho. Lokasi Wat Pho tepat di seberang Grand Palace (atau di samping ya, lupa-lupa ingat hehe maafkan). Yang jelas deketan banget. Waktu itu kami dari Grand Palace menuju Wat Pho menggunakan tuk tuk. Meskipun dekat, tapi karena panas yang begitu menyengat jadilah agak manja.

20160506_160040
some people were praying

3 Wat Arun

Kami menggunakan kapal untuk menuju Wat Arun. Dengan membayar 40 THB per orang, dari dermaga Saphan Taksin kami mengarungi sungai Chao Phraya. Harga tersebut berlaku untuk sekali naik dan sekali turun saja. Ada beberapa opsi untuk berhenti sepanjang sungai, mulai dari Oriental hingga Thewet (ada 15 stop). Tujuan kami waktu itu berhenti di Wat Arun. Lalu dari Wat Arun menuju Wat Pho/Grand Palace bisa ditempuh menggunakan kapal penyebrangan dengan membayar 4 THB per orang.

20160505_140229
Wat Arun under renovation yet still open for public

4 Jim Thompson House & Museum

Actually, saya baru tahu tentang museum ini ketika saya iseng lihat-lihat poster di dinding hostel. Museum ini masuk di salah satu “must visit places” di Bangkok. Setelah¬†googling, ternyata letak museum ini sangat dekat dengan hostel saya. Jadi, keesokan paginya (7 Mei 2016) kami berjalan kaki menuju tempat tersebut. Memang benar, dekat sekali! Cuma 10-15 menit saja itupun jalan kakinya udah super santai.

Untuk masuk museum ini, kami harus membayar 150 THB per orang. Kemudian pada nota, tercatat jam kunjung kami. Jadi pengunjung museum ini dibagi-bagi menjadi beberapa rombongan. 1 rombongan terdiri sekitar 15 orang dengan 1 tour leader yang akan menceritakan sejarah Jim Thompson.

Tidak hanya rumah Jim Thompson, terdapat juga galeri dan toko yang menjual berbagai barang dari sutra, mulai dari baju, scarf, tas, dll yang terletak di bagian depan menyambut para tamu yang baru datang. Untuk harga, merk Jim Thompson ini tergolong mahal sih, tapi tentu diikuti dengan kualitasnya yang bagus. Ya ada harga ada rupa deh.

20160506_11275020160506_105305

5 Shopping Centres

Di saat kebanyakan orang ke Bangkok dengan tujuan belanja, anehnya baik saya maupun Renzy nggak kepikiran tuh buat belanja hahaha tapi karena mostly Indonesian tourists pasti ke mall buat belanja, ya sudah deh yuk mari kita coba. Jadilah saya mengunjungi beberapa shopping centres, antara lain: (i) Pratunam Market; (ii) Chatuchak Weekend Market; (iii) Union Mall; (iv) The Platinum; (v) MBK; (vi) Terminal 21; dan (vii) Siam Center. Sebenarnya masih ada lagi cuma saya lupa namanya.

Untuk yang grosir murah-murah (kalo di instagram banyak yang jual dengan hashtag #pobkk, hahaha) itu ada di Pratunam Market, Union Mall, MBK, dan The Platinum. Yang rada ga masuk akal tuh ukuran bajunya! Keciiillll banget. Lah edan siapa yang muat coba?! Saya aja yang ukuran badannya udah langsing gini (maaf narsis) ngerasa itu baju ukurannya super kecil. Kalau saya pribadi lebih enjoy window shopping di Terminal 21 dan Chatuchak Weekend Market.

Dari sekian banyak tempat belanja yang dikunjungi, untuk saya pribadi hanya membeli kain sutra Thailand yang warnanya kalem dan super cantik, juga Thai Milk Tea yang tentu nggak boleh ketinggalan untuk dilewatkan!

P.S.: Chatuchak Weekend Market hanya buka Sabtu dan Minggu mulai pukul 9 pagi. Ada banyak sekali penjual disini, mungkin ratusan atau ribuan? Saya kurang tau. Yang jelas gerah banget! Meskipun di beberapa toko ada AC, tetep aja gerah. Tapi karena yang dijual barangnya lucu-lucu bikin laper mata, jadi saya betah aja belanja disini. Harganya pun sudah dipastikan terjangkau dan bisa ditawar pula!

20160507_090012
Chatuchak Weekend Market at 9.30 a.m still less crowded so it’s more convenient to come at this hour.

6 Food

Selama di Bangkok, saya rajin banget kulineran. Hampir semua makanan yang saya coba nggak ada yang nggak enak! Mulai dari¬†Pad Thai di kaki lima dekat hostel, Tom Yum Goong Fried Rice dan Chicken Green Curry Soup di MBK, Fried Chicken Satay, Mango Sticky Rice di Mango Tango, sampai Thai Milk Tea abang-abang kaki lima semuanya enaaaakk! Pantes saja jadi boros! Tapi nggak apa-apa, seenggaknya saya bahagia ūüôā

P.S.: Give it a try to the local food while you’re in Bangkok!

 

To sum up, saya bahagia 4 hari di Bangkok. Meskipun panas menyengat, pesawat delay 10 jam, dan¬†lost in translation¬†karena warganya banyak yang nggak bisa Bahasa Inggris, tapi makanan lokalnya bikin kangen! Apalagi Thai Milk Tea yang pas banget dinikmati saat cuaca panas! Jadi kalau kamu punya waktu singkat dan dana terbatas, Bangkok mungkin bisa menjadi alternatif yang tepat untuk¬†dikunjungi ūüôā

 

 

 

Exchange Life with AIESEC

I know that my post is supeerrr late! But, it’s better late to post than to not ūüėČ I had an amazing 6-week exchange experience last year that could change my whole life, especially my point of view. I learned to be more grateful, cherish the life, giving and loving, and adaptable to the new society and environment. It was beyond words!

In this post, I am going to copy some words from the EP report I made last year (of course) with some modification. I hope this story will inspire everyone who’s going to have an exchange. I suggest you guys to have at least one exchange experience¬†or living abroad for such a long time. ¬†It’s fun and challenging! Masalah duit? Insha Allah selalu ada jalan dan rejeki untuk orang-orang yang mau berusaha keras dan berdoa. Asal yakin bahwa keinginan itu pasti tercapai, insha Allah tercapai ūüôā Just have faith.

“Faith is all about believing. You don’t know how it will happen, but you know it will.”

 

FIRST WEEK in Turkey (The Arrival)

Having an exchange during college life had been in my bucket list, so I was looking for an opportunity when I could have long period of time to go. Then, the time came…

In December 2014, I finished my final thesis and graduated in March 2015. Therefore, I decided to join the AIESEC GCDP program to fill the gap (between December 2014 – March 2015) with a precious moment. I had been waiting for this winter exchange for such a long time. After passing through all the application tests and interviews with AIESEC Bandung, I was finally accepted as an exchange candidate. Started from that time, I was busy to search a project with children topic because I really love them. In the 8th of November 2014, there was a good news from Cińüzem (OCP of Break Up The Barriers) that I had been accepted for the Break Up The Barriers Project in Kocaeli Turkey from January 15th, 2015 to February 28th, 2015. I was soooo happy and grateful. I departed from Jakarta to Istanbul on January 12th, 2015 by Turkish Airlines. By the way, the service in this airlines was so amazing as they brought the Turkish culture in the flight service. I was given slippers and they served Turkish tea (chai) that I loved too much! ¬†The food was so delicious that made want to explore Turkish food asap¬†hehehe.

As soon as I arrived at the Ataturk Airport Istanbul, I tried to reach Cihan (an OC that picked me up) by sending him message because there is no free WiFi access in the airport. I finally met him 15 minutes after. He helped me carrying my heavy bags. We went to Izmit by Metro from Ataturk Airport to Otogar and by Efe Tur Bus from Otogar to Izmit (Halkevi). The cost for Metro was 4 TL and the cost for bus was 20 TL.

Living in Turkey is not as expensive as we imagined. However, the most expensive one was the transportation fee since the fuel price in Turkey is really expensive. The food price was the same as Jakarta’s. Fortunately, I was living with a really nice host family. They gave me breakfast and dinner so I could save much money for meals. For lunch, I usually bought in the city center. The textile especially clothes were really cheap in Turkey. The quality were also undoubtedly good. If you come to Turkey, just bring few pieces of clothes. You had better buy here.

The city in which I was working was Izmit, an administrative center of Kocaeli Province. The AIESEC Kocaeli office is located in the city center, so it was easy to shop and had lunch around. Izmit is only 1,5 hours away from Istanbul by bus number 200. What I love the most from this city was the location which is near the sea and mountain (What a perfect combination!). On the other hand, the people in Izmit are lack of English ability so you have to speak at least basic Turkish. It gave me benefit actually as I was forced to be able to speak basic Turkish at least to bargain the price :p Overall, I really love this country and the people. Turkish people are really nice, friendly, and warm. Turkiye çok seviyorum!

SAMSUNG CSC
The city of Izmit, Turkey.

 

 

About My Host Family

My host family is a warm and kind-hearted family that I ever met! Both of my host father and my host mother are ENT doctors, so I could understand why they were very busy. I also lived with their only son, Batu, a 5-year old handsome boy and Manana. I spent my time at home to play with Batu when I didn’t have any schedule to go to rehabilitation centers.

 

LC Hosting Entity and Project

LC Kocaeli is a big family with tens of committees. As I am not an AIESECer, I do not really know the committee structure in AIESEC Kocaeli. What I know is that they are very responsible and friendly. They were also busy people because they had meeting almost everyday in the office.

Talking about Break Up the Barriers (BUB) Project, it was about how we dealt with disabled children. In the BUB Project Winter 2015, we went to six different rehabilitation centers. The OCs mixed the EP group every week and also the rehabilitation centers. I went to 4 of 6 rehabilitation centers. The most visited rehabilitation centers were Yeni Hayat and Bah√ßecik because I had fix schedules there. I had to go to work for 3 ‚Äď 4 times a week with different team. The OCs helped us a lot in translating to Turkish because most of the children and the teachers did not know about English yet. By the way, the location of the rehabilitation centers were somewhat far away from the city centers. We have to prepare extra money only for the transportation.

Spending time by doing the project in the rehabilitation centers was the most memorable and sweetest moment for me. We shared laughters, sang songs, and danced together. I was really lucky to meet someone that made goodbye hard to say. Even in the short time, the children could feel enjoy the moments with us, the BUB team. The last week of the project was the hardest time ever.

SAMSUNG CSC
First met with Break Up The Barriers Team 2015
SAMSUNG CSC
The Congress Meeting
SAMSUNG CSC
The Class with the lovely kids! ūüôā

 

Kocaeli

We finally got to have trip together after spending some days in the rehabilitation centers teaching the children. It was fun! Having breakfast in Seka Park Otel to fill the tank then off we went by tour bus. We visited some museums, such as¬†Mevlana Evi and Selim Sirri Pasa’s house. Mevlana Evi is a house in which there were many statues told us about the life of Mevlana. Mevlana is famous for¬†his humanity during the Ottoman Empire. The next destinations we visited were observation place to see the city view and Selim Sirri Pasa’s house. Selim Sirri Pasa was the first Izmit governor. The house is still used as a place for governor’s meetings.

SAMSUNG CSC

SAMSUNG CSC
Nice view from above!

 

Istanbul

Istanbul already had caught my heart since the first time I stepped my feet on the city. I fell in love! I had visited Istanbul 4 times and never got boring. This city offered romantic atmosphere, beautiful mosques with the Turkish style architectures, friendly people, many birds flying in the sky, fish sandwich, museums and the bazaars. Who will not in love with this ambiance? I had a good time. Istanbul must be put in everyone’s destination. Not to forget, try¬†dondurma (Turkish ice cream) while you’re here.¬†Dondurma is extremely delicious that I could not forget. Italian gelato mah lewaaaattt!! Nggak ada apa-apanya. The soft and creamy texture made me want more ūüė•

SAMSUNG CSC
Haghia Sophia
SAMSUNG CSC
In front of the entrance gate of Topkapi Palace with BUB’15

 

Bursa

Another great day when we went to Bursa. Tried local food, enjoy the rural part of the city, and visited some museums. I remember many songs we sang in the bus. Good memory won’t easily fade away…

cumalikizik

SAMSUNG CSC
Enjoying the night with BUB’15 listening to local music while sipping a glass of chai. What a perfect combination! ūüôā

 

 

Çanakkale

To get to this city, we needed to spend 8 hours by bus from Izmit. We started the journey in midnight so we could see the sunrise in the morning. Çanakkale is a province that is known as a historic place during the World War 1 in 1915. We visited many cemeteries and were told about the history here. Since the tour guide explained in Turkish, I slept many times and did not exactly know the war details (apologize me, please hehe).

SAMSUNG CSC

 

Turkish Food

The trip will not be complete without tasting local culinary. Thankfully, I’m not a picky eater so I could get used to local food easily. You should try iskender, baklava,¬†dondurma, especially the desserts while you’re in Turkey. I definitely love Turkish food!

SAMSUNG CSC
iskender
SAMSUNG CSC
kunefe

 

In the end, I got many experiences during this exchange. Special thanks to AIESEC Bandung and AIESEC Kocaeli for having me and giving me the opportunity. I had amazing weeks in Turkey! ūüôā Turkey, you are missed!!

“And then I realized, adventures are the best way to learn…”